Kamis, 06 Desember 2012

Penjelasan Terakhir ( With Love )


” Ia mengenalku sebagai pembohong,

setidaknya itu yang pernah

dikatakannya padaku,

dan mungkin kan terus terpatri

dalam hatinya.

Dia bilang..

Aku tak pernah membuktikan

perasaan cintaku

aku harus apa?? ”


Alif menutup buku hariannya. Sebenarnya itu tak pantas disebut buku harian karena hanya beberapa halaman kosong dari tiap-tiap buku tulis kuliahnya yang kadang dimanfaatkan untuk mencorat-coret isi hatinya. Kadang bentuknya tulisan kadang pula hanya sebuah gambar berantakan.


Perlahan kepalanya mendongak ke atas, saat sebuah wangi parfum yang dikenalnya tiba-tiba memasuki rongga penciumannya.

Dea! Gadis manis yang ia maksud dalam puisinya barusan tengah berdiri di depannya dengan wajah sendu. Matanya sembab. Sepertinya ia banyak menangis akhir-akhir ini.

” katanya ada kuliah? ” tanya Alif sambil berdiri dari bangkunya.

” aku bolos. Aku pengen ngomong sama kamu”

Dea menarik lengan Alif menuju perpustakaan.

Ruang perpus kampus cukup luas dan enak untuk bercakap-cakap rahasia. Peraturannya tidak terlalu ketat, asalkan jangan ribut dan makan di dalam perpustakaan itu.
Alif dan Dea segera mengambil tempat favorit mereka. Pojokan. Setelah sebelumnya mengambil beberapa buku seolah bergaya hendak membacanya, padahal hanya sebagai penghias meja saja.

“aku mau menikah sebentar lagi..” kata Dea mengawali percakapan itu.
Wajahnya menunduk seolah ingin menyembunyikan kedukaan yang dalam di depan Alif.

” menikahlah… ” kata Alif.

Mata Dea membelalak. Di tatapnya Alif dengan pandangan tak percaya

” memang ya.. Dari dulu kamu itu nggak pernah benar-benar cinta sama aku. Nggak pernah membuktikan ucapanmu kalo kamu cinta sama aku!” kata Dea, sengit.

Alif menghela nafas panjang. Dia paling kesal jika Dea mengatakan hal ini, meragukan cintanya pada gadis itu. Kata-kata itu terasa mengiris-iris hatinya. Alif meradang.

” lalu aku harus apa? Menahanmu menikah? Menahanmu pergi? ”

” kamu memang cuma ngomong kosong, Lif. Dulu saat aku butuh ditemenin ke Jambi, kamu nggak mau. Sekarang pun kamu seperti tak keberatan jika aku menikah dengan orang lain”

” aku bukan nggak mau menemanimu ke Jambi. Harus berapa kali kuulangi, bahwa waktu itu aku nggak bisa. Bukan nggak mau” bela Alif sambil berusaha menahan suaranya yang mulai meninggi. Dia paling sebal jika selalu dianggap pembohong hanya karena tak bisa menemani Dea ke Jambi saat hendak mengunjungi ibunya yang waktu itu sedang sakit.
Keluarga Dea memang tinggal di Jambi, cukup jauh dari Jakarta sehingga ia ingin Alif menemaninya pergi. Saat itu bukannya Alif tidak mau tapi dia memang tidak bisa.

” aku mau menikah, Lif. Aku akan jadi milik orang lain. Katakan padaku, jelasakan padaku kenapa kamu seperti nggak serius dengan kata-kata cintamu waktu itu..” Dea memegang lengan Alif. Matanya terasa mulai memanas. Keras-keras dia coba menahan tangis yang tengah memenuhi rongga dadanya.

” aku memang mencintaimu, Dea..
Tapi… Aku nggak pantas untukmu”

” omong kosong! Penjelasan apa itu?! “

Dea menghardik. Raut wajahnya nampak sangat letih. Ada duka yang mendalam di kedua bola matanya.

” aku ini hanya orang terbuang. Aku nggak pantas untukmu. Bahkan saat ini aku nggak tidur di bawah jembatan saja sudah bersyukur. Aku masih bisa tidur di mushola dan menjadi takmir disana” kata Alif sambil memegang tangan Dea, berusaha menenangkannya.
Dia nggak mau diusir dari perpus dan atau menjadi perhatian orang lain karena nada suara mereka yang makin meninggi.

“ya aku tau. Tapi nasib bisa berubah,Lif. Aku cuma pengen denger kalo kamu serius sama aku. Dan kita bisa berjuang sama-sama.. ” Dea mulai terisak kecil.

” Dea.. Banyak hal dari masing-masing kita yang kita belum tau. Misalkan pun kamu tau dan bisa menerima keadaanku belum tentu keluarga besarmu bisa menerima aku juga.
Sudahlah Dea.. Jangan pernah lagi kamu tanyakan keraguan ini.
Kamu berhak bahagia bersamanya… “

” oke. Aku akan tetap menikah satu bulan lagi. Demi permintaan bundaku yang sedang sakit keras. Bukan demi cinta. Dan ingat Alif, sampai kapanpun aku tau bahwa selama ini kamu hanya mempermainkan perasaanku saja ” kata Dea sambil berdiri dan berlalu meninggalkan Alif yang terpuruk sendirian.
Dea merasa hancur, Alif pun demikian

********


 Pernikahan itu tinggal menunggu menit. Alif datang karena Dea mengundangnya. Ada rasa yang bergetar hebat di dada Alif. Dia sebenarnya ragu apakah kuat melihat Dea di pelaminan bersama orang lain, tapi dia merasa harus datang. Alif tak ingin mengecewakan Dea yang telah mengundangnya.

Gadis itu terlihat cantik dalam balutan busana pengantin berwarna gold, warna kesukaan Dea. Alif sesekali beradu pandang dengan Dea yang tengah bersiap beikrar sehidup semati.
Matanya masih sama. Sendu dan nampak sering menangis akhir-akhir ini. Namun ia bisa apa?
Hanya bisa menatapnya dari jauh, dari deretan kursi undangan perhelatan suci ini.

” mas Alif ya..” sebuah suara menyadarkan lamunannya. Dilihatnya seorang lelaki remaja tersenyum kearahnya. Alif mengangguk.

” saya adiknya kak Dea, mas. Mau ngasi ini. Titipan dari kakak” katanya sambil menyerahkan sebuah surat merah jambu. Anak laki-laki itu segera berlalu.

Alif segera membuka dan membaca surat itu.

” dear Alif,

sebentar lagi aku akan menjadi milik suamiku. Doakan aku semoga bisa bahagia, karena aku ragu bisa merasakan itu jika tidak bersamamu.

Selamat tinggal selamanya”

Alif menatap ke arah Dea yang juga tengah melihat Alif. Alif tersenyum kecil sambil tangannya melambaikan sepucuk surat terakhir, memastikan Dea tau ia telah menerimanya.
Dea membalas dengan anggukan.

Acara segera berlangsung. Semua berjalan lancar dan banyak orang terlihat bergembira. Di kursinya diam-diam Dea membuka surat merah jambunya yang sempat disematkan Alif saat tadi bersalaman. Rupanya Alif membalas surat dea di kertas yang sama.

“Dea. Kamu tak tau begitu dalam aku mencintaimu. Hingga jika aku boleh memilih, amnesia lebih baik bagiku, daripada aku mengenalmu hanya untuk berakhir dengan melupakanmu..”

Dea melipat surat itu. Airmatanya ingin tumpah. Namun dia tak mau merusak kebahagian suaminya, keluarganya dan para undangan. Dea lalu tersenyum dan terus tersenyum dalam pesta pernikahannya itu walau hatinya hancur berantakan

***************

nb: cerita ini hanya fiksi semata. Jika ada kesamaan nama dan kejadian penulis tidak bertanggung jawab,hehe..


Cerpen by Dya Diana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar