“Sudahlah Bu, tak usah ikut campur..” suaminya tetap hengkang, tak menghiraukan kata-kata istrinya yang cemas.
Ya, musim kemarau tahun ini menyisakan cerita panjang. Selain cuaca yang panas membakar kulit, krisis air yang menimpa banyak warga pun bisa menimbulkan salah paham diantara mereka. Panasnya musim kemarau bisa ikut pula membakar hati.
Pak Galuh mengetuk pintu rumah Pak Halim.
Tok..tok.. Tok..
” eh Pak Galuh, ada apa gerangan malam-malam begini ke rumah. Ayo, silahkan masuk..” tak lama pintu di buka sendiri oleh si empunya rumah, Pak Halim.
“nggak usah Pak. Saya disini saja..” tolak Pak Galuh sambil duduk di kursi teras rumah.
“begini Pak..” katanya sesaat setelah keduanya duduk bersebelahan.
” perumahan kita ini kan lagi krisis air. Pendistribusian dari pipa-pipa yang telah ditanam pihak developer perumahan kita ini kan tidak merata. Tolonglah bapak toleransi dikit, jangan mentang-mentang air di rumah bapak lancar, bapak masih sempat menyiram tanaman dan mencuci motor segala” kata Pak Galuh, panjang lebar, tak mampu menyembunyikan kekesalannya.
” Pak Galuh, kalo menyiram tanaman pas saya ada air, itu tak bisa saya hentikan. Tanaman-tanaman itu kan juga makhluk hidup yang butuh air agar tidak mati. Kalo masalah mencuci motor ya akan saya perhatikan lagi. Tapi kalo tadi sore itu motor saya memang sudah 2 bulan belum di cuci…” jawab Pak Halim.
” Wah, saya sekeluarga ini mandi saja sampe numpang di rumah mertua segala, pak” potong pak Galuh, yang mertuanya memang tinggal di RT sebelah.
“Ya Pak, tapi ini kan bukan salah saya kalo rumah saya ketiban saluran air yang lebih lancar. Kalo Pak Galuh sekeluarga mau mengulur selang dari kran depan rumah saya, silahkan lho Pak. Saya nggak apa-apa” jawab Pak Halim.
Pak Galuh pun permisi pulang, hatinya tetap tak puas atas pertemuannya barusan dengan Pak Halim. Di tengah perjalanan ia memutuskan untuk mengunjungi beberapa tetangga lainnya yang senasib dengan dirinya, air di rumah mati.
Dia punya rencana yang bisa mengakhiri krisis air di rumahnya. Maka setelah mengunjungi beberapa tetangganya itu, mereka berombongan menuju rumah pak RT.
Pak Galuh mengemukakan idenya untuk mengubah beberapa ‘desain’ pipa penyaluran air yang telah di buat oleh pihak developer, jauh sebelum perumahan mereka di tempati seperti sekarang. Dan usul itupun disetujui dan segera di realisasikan esok harinya.
Tak ayal, setelah pipa desain pak Galuh selesai, air di rumahnya pun kembali mengucur. Walau tak deras seperti biasa, namun lumayanlah untuk kebutuhan sehari-hari. Sayangnya senyum itu mengembang hanya sebentar. Desain buatannya itu ternyata mempengaruhi air di rumah pak Halim dan beberapa tetangga lainnya. Air dirumah mereka yang semula lancar menjadi mampet. Kadang pun jika mengalir, sangat kecil dan bagai tetes air mata.
Bagaimanapun jika mereka hendak mengubah fasilitas perumahan, seharusnya tidak dengan mengorbankan milik orang lain. Mereka tidak merasa bersalah, karena desain penyaluran pipa-pipa itu sama sekali bukan bikinan mereka, melainkan hak developer saat membangun Griya Kasih ini.
Pun saat mereka membeli rumah, mereka semua tidak tau mana yang pipanya kelak begini atau begitu. Semua hanya kebetulan yang menguntungkan atau kebetulan yang menyengsarakan. Begitu kira-kira protes mereka ke Pak RT. Pak RT makin pusing oleh ulah para warganya.
Di sudut lain, krisis air pun mengancam kekerabatan para ibu-ibu. Hampir setiap hari sapaan mereka jika bertemu hanyalah membahas air.
” Jeng, air nyala nggak..?” atau
” eh dirumah ibu ini nyala lho. Kok disini enggak ya…”
Kadang berita tentang air pun terkirim lewat buah bibir para Asisten Rumah Tangga yang kerap kumpul-kumpul kala sore hari. Air pun memberi peluang yang mudah bagi rasa iri untuk menyusup masuk ke relung hati masing-masing dan memberi sedikit perpecahan bertetangga.
Griya Kasih tempat mereka tinggal kini terasa berkurang rasa kasih sayang antar warganya. Semua gara-gara air yang mati.
Pak RT pun mengambil langkah sigap. Dengan sepeda motor tuanya ia membagikan undangan halal bihalal ke rumah-rumah warganya. Acara itu dilaksanakan nanti malam, dengan harapan saling memaafkan akan membuat hubungan yang mulai retak kembali rekat.
Malam itu banyak warga yang datang, dan ada pula yang tidak datang. Keceriaan malam itu dan tangan-tangan yang tergenggam dalam maaf setidaknya dapat mengurai benang kusut yang terjalin. Itu yang nampak nyata, namun dalam hati orang siapa yang tau.
” Dalam bertetangga memang sebisa mungkin dapat menahan diri saat salah paham menghampiri. Sebab jika emosi setitik saja menodai dapat merusak silaturahmi yang ada.
Kalau yang namanya masalah pasti ada saja, namanya juga bertetangga. Ia akan datang namun pasti akan pergi. Namun luka yang terlanjur tergores di hati belum tentu dapat terobati.
Sabar dan hanya mengadu kepada Sang Pencipta saya rasa adalah pilihan bijak, daripada saling curhat satu sama lain. Ingat bapak-bapak, ibu-ibu sekalian.. tembok pun punya telinga lho ” nasihat Pak RT malam itu, mengguyur sanubari warganya yang mulai mengering akibat kemarau panjang tahun ini.
NB: cerita ini hanyalah fiktif belaka yang terinspirasi dari sulitnya air bersih di perumahan saya tinggal. Semoga dapat menjadi pelajaran yang lebih baik dalam bertetangga, bagi penulis maupun pembaca semua.
Cerpen by Dya Diana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar